Jumat, 13 Juli 2012

JAMITA MINGGU 15 Juli 2012, AMOS 7:7-15


Turpuk Jamita: Amos 7:7-15
AMOS:Mendengar, Melihat, dan Menyatakan kendak Allah, tetapi ia ditolak
SYALOM…………..
1Amos adalah hamba Tuhan yang menyuarakan Keadilan dan kebenaran. Ia dipanggil dan terpanggil untuk menyuarakan kehendak Tuhan bagi umat Israel yang telah menyimpang. Terjadi kesenjangan ekonomi yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin, karena sistim ekonomi yang merugikan orang-orang lemah namun menguntungkan bagi para penguasa dan pengusaha/orang kaya. Hukum bisa dibeli dengan uang, jabatan bisa dibeli dengan uang (telah terjadi praktek komersialisasi). Para peminpin tidak berpihak pada  rakyat kecil, pajak yang tinggi menguntungkan Negara, namun disisi lain rakyat semakin sengsara. Hasil panen para petani tidak dapat dinikmati karena mereka harus membayar utang pinjaman bagi para rentenir/tengkulak (pemodal). Disisi lain kehidupan keagamaan nampaknya berjalan dengan baik, namun kenyataannya peribadahan penuh dengan kemunafikan(Amos 5:21-23). Sesungguhnya Ibadah yang sejati adalah jika umat hidup dalam keadilan (Amos 5:23) Ditengah kehidupan umat yang memprihantinkan itulah Amos dipanggil oleh Tuhan untuk menyuarakan keadilan dan kebenaran.Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan Allah selalu berpihak pada orang-orang yang lemah, yang miskin karena penindasan para penguasa (pemimpin) dan pengusaha (kapitalis, orang kaya yang rakus).
2. Melalui nats khotbah ini kita diingatkan bahwa Tuhan Allah akan bertindak menghukum orang-orang yang menindas, orang yang membuat orang lain menderita. Hal itu telah nyata dalam sejarah umat Israel. Keberpihakan Allah pada orang yang tertindas menunjukkan hakikat dan jatidiri Allah (hadirion ni Debata) yang menginginkan hidup manusia dalam damai sejahtera bukan hidup dalam penderitaan. Penderitaan merupakan hasil usaha dan upaya manusia yang menindas sesamanya. Oleh sebab itu, gereja memiliki peranan dan fungsi utama secara moral dan spiritual untuk menyuarakan suara “kenabian”, untuk menyatakan “syalom kerajaan Allah” yakni kedaiman dan keadilan, agar semua umat hidup dalam damai sejahtera. Hal itu hanya dapat terwujud jika semua umat memahami dan melakukan “keadilan dan kebenaran”. Gereja memiliki peran untuk menegor kebijakan para pemimpin yang salah, baik eksekutif (pemerintah), Yudikatif (penegak hukum) dan legislatif (anggota Dewan). Oleh sebab itu gereja (para pelayan) harus dapat menjamin dirinya hidup dalam kebenaran dan keadilan.
3. Amos menyuarakan Tuhan akan menghukum Umat Israel karena kejahatan mereka. Ketidakadilan merupakan tindakan kejahatan.  Hidup dalam keadilan menyangkut bagaimana kita menempatkan diri, bagaimana sikap dan bertidak secara benar terhadap sesama. Sikap dan tindakan yang benar mencakup seluruh hidup kita. Baik sebagai pejabat, pengusaha, pegawai, petani, dan apapun profesi/pekerjaan kita semua hendaknya bersikap dan bertindak dalam kebenaran dan keadilan. Allah akan menyatakan keadilanNya bagi kita, kita berdoa semoga KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dapat sebagai alat Tuhan untuk membongkar kasus korupsi dan menegakkan keadilan bagi para koruptor. Kita berdoa agar lembaga pengadilan dapat menjadi tangan Tuhan,  menegakkan “tali sifat”dalam arti menegakkan keadilan dengan keputusan yang tepat (Ibr, Misypat), mengahakimi dengan utuh dan tepat, sesuai dengan kehendak Tuhan (Ibr, tsedaqa). Hidup damai sejahtera adalah bagian dari bagaimana keadilan ditegakkan maka menegakkan “keadilan” adalah sumber kebaikan (Yes 1:17; Yer 22:16).