Senin, 04 Maret 2013

JAMITA/KHOTBAH MINGGU: LUKAS 15:11-32


KASIH ALLAH YANG MENGAMPUNI DAN MENYELAMATKAN

Nats ini menekankan pesan teologis  yakni
1.       Allah yang maha kasih senantiasa memberi pengampunan bagi orang yang mau bertobat
2.       Kasih Allah sangat sempurna, kasih yang menyelamatkan, kasih yang mengampuni, kasih yang tidak menuntut: Ia adalah Allah yang memberikan kesempatan bagi kita untuk bertobat, Ia selalu menantikan kita agar datang kembali kepadaNya, Allah akan bersukacita ketika orang yang menyadari dosanya mau bertobat
3.       Oleh sebab itulah kita mampu untuk bersukacita atas kasih Tuhan kepada kita, dia telah menerima kita sebagai ahli waris kerajaan Allah, dia yang kekal memberikan hidup yang kekal bagi orang percaya kepadaNya, orang yang mengakui dosanya, orang yang merendahkan dirinya.
Karakteristik manusia ditinjau dari perumpamaan ini
1.       ANAK YANG BUNGSU
Sikap negatifnya: Awalnya ia hidup dalam dosa, mengikuti keinginan dirinya, mengikuti  hawa nafsu duniawi
Sikap positifnya:
a.       Ia memiliki KESADARAN
b.      IA memiliki VISI, IMAJINASI
c.       IA mampu mengambil KEPUTUSAN yang bijaksana
d.      Ia meimiliki prakarsa dan proaktif
2.       ANAK YANG SULUNG
Dari  aspek luar dia nampaknya baik dan taat orang tua, taat norma, taat beragama, namun ada sesuatu yang terselubung di dalam kepribadiannya yaitu:
a.       Dia merasa dirinya lebih baik dari orang lain
b.      Kebaikannya bukan berdasarkan pada ketulusan yang sesungguhnya karena dia pada akhirnya menuntut apa yang telah dia perbuat
c.       Dia nampaknya tidak senang melihat adanya  perubahan orang lain, ketika anak bungsung kembali ke rumah orang tuanya dia merasa tidak nyaman, atau tidk senang : Kita juga sering memiliki sikap seperti itu, kemunafikan, kita tidak senang melihat orang lain perkembang, maju, sukses,
d.      Dia tidak menggangp dirinya sebagai anak ahli waris, tapi merasakan dia adalah budak di rumahnya sendiri, karena  ternyata dia tedak merasakan bahwa dirinya adalah pemilih dan menjadi ahli waris.  Sebagai orang kristen kita juga tidak merasakan bahwa sesungguhnya Tuhan telah melimpahkan berkatnya kepada kita, namun kita tidak mengakui, dan meraskan itu, sehingga kita sering menjalani kehidupan ini dengan « beban », kita merasa terbeban untuk melakukan yang baik, dan kita juga terbebani melihat orang lain. SIkap kemunafikan, egosentris, meng klaim diri yang lebih baik, sikap cemburu, menuntutu, bersungusungut, pada dasarnya membuat hidup kita sulit untuk bersyukur dan bersukacita.