Teks Kotbah: Matius 14:22–33
Tema: TENANGLAH! JANGAN TAKUT!
""Iman bukanlah
kemampuan menghilangkan badai, melainkan keberanian untuk tetap percaya bahwa
Tuhan hadir di tengah badai. Ketakutan melihat besarnya ombak, tetapi iman
melihat besarnya Tuhan." Badai tidak selalu menandakan bahwa Tuhan
jauh. Sering kali justru di tengah badai itulah Tuhan datang paling dekat
kepada umat-Nya. Ketika manusia berkata, 'Aku tidak sanggup lagi,' Tuhan
berkata, 'Tenanglah! Aku ini, jangan takut.'" Setiap orang pasti pernah
mengalami "badai kehidupan". Ada badai berupa penyakit, kehilangan
orang yang dikasihi, pergumulan ekonomi, konflik keluarga, tekanan pekerjaan,
pelayanan yang melelahkan, bahkan badai dalam hati berupa kecemasan dan ketidakpastian
masa depan. Sering kali kita berpikir bahwa orang yang dekat dengan Tuhan
seharusnya hidup tanpa badai. Namun Matius 14 justru mengajarkan hal yang
berbeda. Murid-murid sedang menaati perintah Yesus ketika mereka diterpa badai.
Artinya, ketaatan kepada Tuhan tidak selalu membebaskan kita dari badai, tetapi
selalu menjamin penyertaan Tuhan di dalam badai. Perikop ini bukan sekadar
kisah mukjizat Yesus berjalan di atas air. Ini adalah kisah tentang bagaimana
Kristus membentuk iman murid-murid-Nya dan memperkenalkan diri sebagai Tuhan
yang berkuasa atas segala sesuatu.
1. TUHAN MENGIZINKAN
BADAI UNTUK MEMBENTUK IMAN UMAT-NYA-Tetap Bertekun dalam Iman (Ayat 22–24). Allah
tidak mengirim badai untuk menghancurkan perahu iman kita, tetapi untuk
menguatkan layar pengharapan kita." Setelah memberi makan lima ribu orang, Yesus
menyuruh murid-murid-Nya naik ke perahu. Kata Yunani yang dipakai adalah
(ēnankasen) yang berarti "memerintahkan dengan tegas". Ini
berarti murid-murid berada di tengah danau bukan karena kesalahan mereka,
melainkan karena menaati kehendak Yesus. Namun justru dalam perjalanan itulah
badai datang. Secara historis, Danau Galilea memang terkenal dengan badai yang
muncul tiba-tiba. Para murid yang sebagian besar adalah nelayan berpengalaman
pun tidak mampu mengendalikan ombak.
Makna Teologis Allah tidak selalu
menghindarkan umat-Nya dari badai.
Sebaliknya, Ia memakai badai sebagai
sekolah iman. Dalam Alkitab, Allah sering membentuk umat-Nya melalui
proses yang sulit.
- Abraham dibentuk melalui penantian.
- Yusuf dibentuk melalui penderitaan.
- Musa dibentuk melalui padang gurun.
- Para murid dibentuk melalui badai.
Demikian pula gereja.
Analogi: Seorang pandai besi tidak
membentuk pedang dengan menyimpannya di tempat yang nyaman. Besi harus ditempa
dengan api dan palu agar menjadi kuat. Demikian pula iman. Iman yang tidak
pernah diuji akan tetap dangkal. Tetapi iman yang ditempa melalui pergumulan
akan menjadi dewasa.
Pesan Praktis: TUHAN YANG MEMULAI PEERJALANAN HJBP TOMANG BARAT DAN JUGA
MEMELIHARANYA. Dalam perjalanan gereja ada
tantangan, pergumulkan, perubahan zaman, tapi Tuhan senantiasa memeliharan. Jesulitan
sebagai tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita. Kadang justru melalui badai itulah
Tuhan sedang membentuk karakter, kerendahan hati, dan ketergantungan kita
kepada-Nya.
2. KRISTUS HADIR TEPAT
PADA WAKTU-NYA DAN MENENANGKAN KETAKUTAN -Tetap Berpengharapan dalam Penyertaan
Kristus (Ayat 25–27). Matius
mencatat bahwa Yesus datang pada penjagaan malam keempat, sekitar pukul tiga
hingga enam pagi. Artinya, murid-murid telah bergumul hampir sepanjang malam. Mengapa
Yesus tidak datang lebih awal? Karena Tuhan bekerja menurut waktu-Nya, bukan
menurut kepanikan manusia. Ketika Yesus datang, murid-murid justru semakin
takut. Mereka mengira yang datang adalah hantu. Lalu Yesus berkata: "Tenanglah!
Aku ini, jangan takut!"
Dalam bahasa Yunani: (tharseite) berarti:
"Kuatkanlah hatimu." Kemudian Yesus berkata: (egō eimi) yang berarti: "Akulah." Ungkapan
ini mengingatkan kepada nama Allah dalam Keluaran 3:14. Matius ingin
menunjukkan bahwa Yesus bukan sekadar Guru, tetapi Tuhan sendiri yang hadir.
Makna Teologis: Kehadiran Kristus lebih penting
daripada hilangnya badai.
Sebelum angin berhenti, Yesus terlebih dahulu hadir. Karena itu, damai sejahtera bukan
berasal dari keadaan yang tenang, melainkan dari kehadiran Kristus. Analogi; Seorang
anak kecil tetap tenang ketika berjalan di tengah keramaian bukan karena jalan
itu aman, tetapi karena ia menggenggam tangan ayahnya. Demikian pula orang
percaya. Ketenangan bukan berasal dari situasi yang aman, tetapi dari Kristus
yang memegang hidup kita.
Pesan Praktis: Selam 38 tahun berbagai ”BADAI’ tantangan, masa sulit,
perubahan, dll. Namun KRISTUS tetap hadir sebagai kepalada gereja dan sumber
pengharapan. Ketika
menghadapi pergumulan, jangan hanya meminta Tuhan mengubah keadaan. Mintalah
agar kita semakin merasakan kehadiran-Nya. Pesan Kata Bijak "Badai
menjadi menakutkan ketika kita merasa sendirian. Tetapi badai menjadi jalan
iman ketika kita menyadari Kristus berjalan bersama kita."
3. IMAN BERTUMBUH
KETIKA MATA TETAP TERTUJU KEPADA KRISTUS-Tetap Memusatkan Hidup kepada Kristus
(Ayat 28–31). Arah pandangan menentukan arah
kehidupan; siapa yang memandang Kristus akan menemukan keberanian melampaui ketakutan." Petrus berkata: "Tuhan, apabila
Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu." Selama Petrus memandang
Yesus, ia mampu berjalan di atas air. Namun ketika ia memperhatikan angin, ia
mulai tenggelam. Masalah Petrus bukan ombak. Masalahnya adalah fokusnya
bergeser.
Makna Teologis; Iman bertumbuh ketika pusat
perhatian tetap kepada Kristus. Ketika manusia lebih memperhatikan masalah
daripada Tuhan, ketakutan akan menguasai hidupnya. Namun ketika mata tetap
tertuju kepada Kristus, iman menjadi kuat.
Analogi; Seorang pengendara sepeda yang terus melihat batu
di depannya justru akan menabraknya. Tetapi jika ia memandang jalan yang benar,
ia dapat melewati rintangan dengan aman. Demikian pula kehidupan rohani.
Apa yang terus kita pandang akan
menentukan arah hidup kita.
Pesan Praktis; MASA
DEPAN HKBP Tomamg barat ditentukan oleh Iman yang terus tertuju kepada TUHAN. Di zaman
sekarang, banyak orang lebih banyak melihat berita buruk, krisis ekonomi, media
sosial, dan ketidakpastian dunia daripada memandang janji Tuhan. Firman hari
ini mengajak kita mengubah fokus.
Pesan Kata Bijak "Ketika mata hanya melihat
badai, hati dipenuhi ketakutan. Tetapi ketika mata memandang Kristus, badai
tetap ada, namun hati dipenuhi damai."
4. PENGALAMAN BERSAMA KRISTUS
BERAKHIR DALAM PENYEMBAHAN-Tetap Hidup dalam Syukur dan Penyembahan (Ayat
32–33). "Badai boleh berhenti, tetapi penyembahan kepada Kristus tidak
boleh berhenti. Orang yang mengenal pertolongan Tuhan akan menjadikan seluruh
hidupnya sebagai ucapan syukur."Sesudah Yesus naik ke perahu, angin pun reda. Lalu murid-murid berkata: "Sesungguhnya
Engkau Anak Allah." Inilah tujuan seluruh peristiwa ini. Bukan sekadar
menghentikan badai, tetapi membawa murid-murid semakin mengenal siapa
Yesus.
Makna Teologis; Setiap pengalaman hidup yang
dijalani bersama Kristus seharusnya membawa kita kepada penyembahan yang lebih
dalam. Mukjizat terbesar bukanlah badai yang berhenti, melainkan hati yang
akhirnya mengakui: "Engkau adalah Anak Allah."
Analogi: Emas yang telah dimurnikan di dalam api akan
memantulkan cahaya lebih indah daripada sebelumnya. Demikian pula orang
percaya. Pergumulan yang dijalani bersama Kristus akan menghasilkan iman yang
lebih murni dan penyembahan yang lebih tulus.
Pesan Praktis: Setiap badai yang telah Tuhan
lewati bersama kita seharusnya menjadi alasan untuk semakin mengasihi,
melayani, dan memuliakan Dia.
Pesan Kata Bijak "Badai
mungkin mengubah perjalanan hidup kita, tetapi penyertaan Kristus mengubah hati
kita menjadi penyembah yang sejati."
Penutup
Matius 14:22–33 mengajarkan bahwa
ketenangan sejati bukanlah hidup tanpa badai, melainkan hidup bersama Kristus
di tengah badai. Karena itu, apa pun yang sedang kita hadapi hari ini,
dengarkan kembali suara Tuhan yang berkata: "Tenanglah! Aku ini, jangan
takut!" Selama Kristus berada di dalam "perahu" kehidupan kita,
tidak ada badai yang lebih besar daripada kuasa-Nya, tidak ada ketakutan yang
lebih kuat daripada kasih-Nya, dan tidak ada pergumulan yang dapat memisahkan
kita dari penyertaan-Nya. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar