Rabu, 13 Agustus 2014

BIK SEPTEMBER 2014



Sabtu, 06 September   2014
Sijahaon:
Manogot: Jesaya 47:1-15                                                                                                    Bodari: 1 Petrus 2:11-25
1. Marende B.E. No.Marende BE No. 6:2      PUJI JAHOWA NA SANGAP                       BL. 56
2.  Puji Jahowa sigomgom sude parluhutan,
      na manogihon ho songon niiring ni tangan
     dohot hosam songon hombar tu roham sai diramoti ibana.
2. Rom 8:14 Ai nasa na tinogihon ni Tondi ni Debata, angka i do anak ni Debata
STATUS  ORANG PERCAYA, sebagai ANAK ALLAH
HATORANGAN
Anak Allah ialah orang-orang yang dipimpin oleh Roh Allah. Roh itulah yang memimpin. Kata kerja yang dipakai adalah dalam bentuk waktu sekarang dan dalam bentuk pasif-semua orang yang dipimpin Roh Allah. Kata Abba adalah sebuah istilah Aram yang kemudian dialihaksarakan ke dalam aksara Yunani yang lalu disalin ke dalam bahasa Inggris. Arti kata ini adalah "Bapa." Bersatunya orang Yahudi dan orang Yunani (bangsa bukan Yahudi) di dalam Kristus tampak di dalam kata-kata pembukaan doa ini.
                                            Orang yang percaya kepada Allah dan menerima karya Kristus di salib telah mengalami pengampunan dosa dan diberi kuasa menjadi anak-anak Allah ( Yoh 1:12). Kita menjadi anak-anak Allah berdasarkan pengangkatan dari Allah sendiri oleh karena karya Anak sulung Allah, yaitu Kristus (Rom 8:23)
                                            Apa yang menjadi bukti bahwa kita adalah anak-anak Allah? Roh Kudus akan memberi kesaksian di dalam hati kita bahwa kita adalah anak-anak Allah (Rom 8:16). Roh Allah menolong kita untuk mampu dan berani menyapa Allah sebagai Bapa kita (Rom 8:15). Kita tidak takut lagi karena dosa-dosa kita sudah diampuni. Bukti lain bahwa kita adalah anak-anak Allah yaitu kita mampu untuk hidup tanpa dikendalikan lagi oleh keinginan daging (Rom 8:13). Sebaliknya Roh Allah menjadi pemimpin hidup kita (Rom 8:14) untuk menghasilkan buah-buah kebenaran (Gal 5:22-23).Sebagai anak-anak Allah, kita mengetahui bahwa kita adalah ahli waris Allah, yaitu orang-orang yang berhak menerima segala janji Allah (Gal 5:17). Janji apa sajakah itu? Yaitu suatu hari kelak kita akan menikmati kemuliaan bersama dengan Kristus di surga, walaupun saat di dunia yang fana ini kita masih mengalami berbagai penderitaan (Gal 5:19-24).
                                             Kita dikuatkan dan dimam-pukan untuk berani menghadapi kesengsaraan hidup dalam kefanaan tubuh karena keyakinan kita pada janji Allah bahwa suatu hari kelak kita akan dibebaskan dari belenggu penderitaan yang memenjara tubuh kita. Dalam situasi yang sangat sulit, Roh Kudus akan menolong kita mengung-kapkan keluhan yang tak terucapkan di dalam doa (Gal 5:26). Semua ini merupakan bukti bahwa Allah telah memilih dan menetapkan kita sebagai anak-anak-Nya. Tidak ada hal apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, yang luput kendali Allah. Justru sebenarnya lewat berbagai pengalaman yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita, kita belajar mengalami dan menikmati karya Allah serta mencicipi kemuliaan-Nya. Cicipan kemuliaan itu semakin terasa saat kita bersekutu dengan sesama anak Allah. Di dalam persekutuan itu iman kita semakin diteguhkan, pengharapan kita semakin fokus ke depan, dan kasih kita makin mewujud dalam keseharian kita.
3. Tangiang Pangondianon
4. Marende No BE, 462:1, 4Ale Tondi Parbadia.
1.        Ale Tondi Porbadia, sai songgopi hami on.
Rohanami ma paria lao mamuji Ho tongtong.
Ho tongtong, Ho tongtong, lao mamuji Ho tongtong.
2.        Jesus Kristus,  tangi, bege, dok ma amenMi disi,
Suru ma tu rohanami hagogok ni TondiMi. Hagogok, hagogok.
5. TANGIANG ALE AMANAMI



Jumat, 12 September  2014
Manogot; Jesaya 51:1-11                                                                    Bodari, 1 Petrus 5:1-14
1. Marende BE No 363:14 Hamu Saluhut Harajaon
Ø  Ho, Debatangku, pujionku Patimbulonku  sai tongtong
Mauliate ma rohangku Di Ho dibaen basaM inon
Hamu sude pe, ale dongan Dok ma mauliate i
Ai ndang he marpansohotan Do denggan ni basaNa i.
2. Rom 8:37 Alai andul do hamonanganta di saluhutna i, hinorhon ni na mangkaholongi hita
Allah di pihak kita
                                                HOLONG NA  MANONGTONG
HATORANGAN
Segala yang kita perlu tertampung dalam Yesus Kristus. Untuk menolong kita melihat kebenaran itu lebih jelas, kini Paulus mengajak kita berpikir lebih cermat melalui lima pertanyaan ini. Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Siapakah yang akan menghukum mereka? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Kasih Allah dalam Kristus menjamin kita sempurna kini dan kekal.
 Dengan kalimat-kalimat yang hidup dan menarik, Rasul Paulus menyatakan keyakinan imannya, bahwa tidak ada yang dapat melawan, menggugat, dan memisahkan orang percaya dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus. Justru karena Kristus sudah menghadapi kematian, lalu bangkit dan dipermuliakan maka Dia menjadi Pembela kita di saat kita menghadapi berbagai penderitaan dan penganiayaan (34-36), yang memang harus dihadapi oleh setiap anak Tuhan. Dia ada bersama dan mendampingi kita.

 Jadi, apa pun yang terjadi pada kita, di mana pun kita berada, kita tidak dapat dipisahkan dari kasih Allah. Penderitaan tidak akan dapat memisahkan kita dari Allah. Justru penderitaan menolong kita untuk menghisabkan diri kita dengan Dia. Melalui penderitaan, kita justru akan semakin merasakan kasih-Nya. Ayat Rom 8:37-39 mengajak kita melihat semua penderitaan itu dari sudut Kristus yang mengasihi kita, sehingga kita diyakinkan bahwa baik maut maupun hidup, malaikat, pemerintah, kuasa-kuasa, dan makhluk lain tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus.

 Maka seorang Kristen hendaknya tidak berputus asa, atau berusaha lari dari tantangan. Penderitaan memang harus dihadapinya. Mungkin kadangkala penderitaan membuat kita beranggapan bahwa kita telah ditolak oleh Yesus. Akan tetapi, Paulus menyatakan bahwa tidak mungkin Kristus berbalik menolak kita atau Allah berbalik memusuhi kita. Kematian-Nya untuk kita merupakan bukti kasih yang tidak dapat dikalahkan oleh apa pun. Kasih-Nya melindungi kita dari berbagai bentuk kekuatan apa pun yang berupaya menguasai dan mengalahkan kita. Kasih-Nya yang begitu besar seharusnya membuat kita merasa aman di dalam Dia.

 Renungkanlah: Kasih Allah dalam Yesus Kristus membantu kita menghadapi penderitaan. Bersyukurlah kepada Tuhan Yesus yang menyertai kita senantiasa, juga dalam kesulitan dan duka. Maka jangan lagi dikuasai ketakutan atau keraguan karena Tuhan kita, Yesus Kristus, telah menjadi Pengantara kita. Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. kita harus meyakini bahwa salib Kristus merupakan jaminan bagi kemenangan iman kita dalam situasi apa pun yang kita hadapi. Bersukacitalah karena hal ini.


3. Tangiang Pangondinon
4. Marende B.E. No787:, 1 7
Ø     Ingkon monang hita, ingkon monang di ujungna.
Ingkon monang hita, ingkon monang di ujungna.
Naporsea do au di Debata, ingkon monang hita.
Ø     Dame ma di hita, dame ma di hita
Dame ma tongtong di hita.
Naporsea do au di Debata, ingkon dame hita.
5. TANGIANG ALE AMA NAMI

Kamis, 18  September   i 2014
Sijahaon:
Manogot  Jesaya 55:1-13                                                     2 Petrus 3:1-18
1. Marende B.E. No.  18    UNGKAP BAHAL NA UMMULI 
1.  Ungkap bahal na umuli, bagas ni Debatangki.
      Ai tusi do au naeng muli, ganup jumpang Minggu i.
Hulului do disi, bohi ni Debatangki.
2.   Nunga ro au, o Tuhanku, ro ma Ho tu au muse.
      Ai di bagas ingananMu, las ni roha do sude.
      Sai bongoti rohangkon, baen ma JoroMi dison.

2. Rom 15:1 Alai patut do hita na margogo i manganju hagaleon ni angka na hurang gogo, jala unang ma tahasiani dirinta
KEWAJIBAN YANG KUAT TERHADAP YANG LEMAH
HATORANGAN
Tidak selalu mudah bagi kita untuk menemukan realisasi makna “kerukunan,” bahkan dalam hidup berjemaat. Padahal gereja yang sehat adalah gereja yang jemaatnya hidup dalam kerukunan, yaitu situasi saat seluruh anggota bersatu hati dan bersuara memuliakan Tuhan
 Orang Kristen-Yahudi di Roma merasa diri lebih kuat dari orang Kristen non-Yahudi. Sikap ini melahirkan tindakan yang menimbulkan perpecahan. Paulus mengajak mereka untuk memanfaatkan kelebihan atau kekuatan mereka secara positif. Bagaimana caranya? Pertama, mereka seharusnya membantu yang lemah (15:1a); kedua, tidak mencari kesenangan sendiri (15:1b); melainkan ketiga, berusaha untuk saling membangun, memakai kekuatan atau kelebihan untuk membangun orang lain (15:2). Bukankah kekuatan dan kelebihan Tuhan karuniakan agar kita membantu kelemahan orang lain, bukan menghambatnya?
Paulus melanjutkan pengajarannya kepada jemaat di Roma mengenai kehidupan berjemaat. Sebelumnya ia telah mengingatkan jemaat di Roma untuk tidak saling menghakimi ( Rom 14:1-13a) dan tidak menjadi batu sandungan bagi sesama (14:13b-23). Kini Paulus meminta jemaat Roma untuk aktif menciptakan kerukunan. Dasar dari pengajaran dan tuntutan kerukunan ini adalah hidup Kristus sendiri (Rom 15:3,7).
 Tindakan aktif pertama yang dapat dilakukan adalah menanggung beban sesama kita (1). Pepatah mengatakan, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.” Golongan kuat kemungkinan besar adalah kaum berada, sebaliknya golongan lemah adalah kaum miskin. Saling menolong dan menanggung beban bahkan akan meruntuhkan batas-batas di antara umat manusia yang saling bermusuhan. Kedua, orientasi hidup orang Kristen seharusnya tidak berpusat pada apa yang menguntungkan dirinya sendiri, tetapi apa yang membawa kebaikan dan membangun orang lain (2). Semakin dewasa iman kita, semakin kita memikirkan kebaikan dan kemajuan orang lain yang ada di sekitar kita. Ketiga, kerukunan terjadi pada saat kita merelakan diri menerima orang lain dengan kelebihan dan kekurangannya
 Kristus adalah sumber iman Kristen yang memberikan contoh bahwa hidup-Nya bukanlah untuk menyenangkan diri-Nya sendiri. Kristus bahkan menerima cercaan dan hinaan demi keselamatan kita semua (3). Ingatlah, Kristus menerima kita bukan karena kita hebat dan memiliki kelebihan, tetapi justru pada saat kita najis oleh dosa.
3.      Marende No 508:1, : Sai patogu.
1.                    Sai patogu rohangki, ale Jesus Tuhanki
Golom dohot tanganmi au dipardalananki
Molo loja au dison pargogo i tongtong.
Dok tu au : Hutogu pe ho tu surgo i muse.

5. TANGIANG ALE AMANAMI

Rabu, 24 September   i 2014
Sijahaon:
Manogot  Jesaya 59:1-21                                     Bodari    Daniel 3:19-30
1. Marende B.E No. 303:6   JAHOWA, TUHANKI 
Ø  Sai pasupasu ma  Sude  pambahenanku. O Tuhan Debata nang nasa pingkiranku
        Sai naeng marsangap Ho Dibaen hatangku pe. Paboa di Ho Do gogongki sude.
2. Mateus 11:28Ro ma hamu tu Ahu, hamu angka na loja jala na sorat, asa hupasonang hamu
Sudahkah kita menjadi murid Yesus yang memuridkan orang lain?
HIDUP DALAM KELEGAAN DENGAN TUHAN
HATORANGAN
 Respons orang terhadap Yesus tidak sama. Ada yang menerima, ada juga yang menolak. Masalahnya, respons itu berdampak pada hidup mereka karena, sadar atau tidak, hidup mereka ada di tangan Yesus. Orang akan celaka bila menolak Yesus dan akan selamat bila menerima Dia.
Sebagai orang yang mengikut Kristus, merupakan bagian kita untuk menceritakan Kristus kepada mereka yang jiwanya dahaga. Mereka perlu memperoleh kelegaan, dan itu hanya bisa diperoleh bila mereka memercayai Kristus, Juruselamat dunia. Kita harus mendorong mereka agar bertobat dari segala dosa, menerima pengampunan, dan memulai hidup sebagai murid Kristus agar makin banyak orang yang menemukan kelegaan di dalam Kristus.
Respons Yesus terhadap mereka yang tidak percaya kepada-Nya semakin tajam. Jika sebelumnya Ia hanya memperingatkan, kini Yesus mengecam dengan keras bahkan mengutuk. Mengapa? Sebab mukjizat-mukjizat sudah banyak didemonstrasikan di hadapan mereka (11:20-24). Namun itu tidak memuaskan dan memimpin mereka kepada iman kepada Yesus karena mereka tidak menilai pengharapan mereka di dalam terang Yesus namun sebaliknya justru menggunakan ukuran pengharapannya untuk menilai dan kemudian menolak Yesus. Karena itu kecaman dan kutukan Yesus adalah wajar sebab mereka menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Allah kepada mereka.
 Sebaliknya terhadap mereka yang percaya kepada-Nya, Yesus menaikkan syukur-Nya kepada Allah. Mengapa? Yesus ingin menegaskan kepada setiap orang percaya bahwa jika mereka dapat percaya kepada Yesus bukan karena lebih suci dan berharga di hadapan Allah, namun ada 3 faktor yang memampukan dan memungkinkan mereka percaya.Faktor pertama, adalah Allah sendiri yang menyatakan makna mukjizat Yesus, Kemesiasan Yesus Kristus, dan makna pengajaran Yesus kepada orang kecil yaitu orang-orang yang dengan rendah hati dan terbuka menerima penyataan Allah (Mat 11:25-26).Faktor kedua, adalah peran Yesus dalam pewahyuan Allah. Wahyu khusus Allah tidak dapat secara langsung dinyatakan kepada manusia karena dosa. Manusia membutuhkan perantara yang menjembatani antara dirinya dengan Allah. Allah menyatakannya di dalam Yesus Kristus (Mat 11:27). Seluruh wahyu khusus Allah yang dinyatakan kepada manusia ada di dalam-Nya. Karena Yesus, manusia dimungkinkan untuk mengenal Allah. Faktor ketiga, adalah undangan lemah-lembut dari Yesus sendiri (Mat 11:28-30). Yesus tidak hanya menjadi perantara namun Ia sendiri yang memanggil orang-orang untuk percaya kepada-Nya. Ia tidak menawarkan beban tapi menawarkan ketenangan bagi jiwa. Inilah anugerah Allah yang luar biasa sebab selain Allah mengaruniakan Anak Tunggal-Nya, Ia juga memberikan wahyu-Nya, memberikan perantara agar wahyu-Nya dipahami manusia dan Ia sendiri juga yang mengadakan pemanggilan. Marilah kita panjatkan syukur atas anugerah-Nya yang tak terkira ini.
3. Tangiang Pangondianon
4. Marende B.E No. 233:1, 3
5. TANGIANG ALE AMANAMI







Selasa, 30  September   2014
Sijahaon:
Manogot: Jesaya 64:1-11                                                                    Daniel 6:1-15

1. Marende B.E. No. No.186:1   TONGTONG TUTU NA DENGGAN DO
Ø  Jahowa do haposanki Na mangapoi rohangku
Na patiurhon dalanki Bulus dibaen langkangku
Sonang tongtong Rohangkinon Binaen ni Debatangku PatikNa do lomongku
2. Johannes 3:20 Ai ganup na mangulahon na roa, hosom do rohana di na tiur i, jala ndang didapothon na tiur i, asa unang gabe patar angka ulaonna i
BERILAH RESPONS YANG TEPAT!

HATORANGAN
Dalam hidup ini kita perlu memberikan respon yang tepat terhadap karya Allah dalam ini. Respon kita akan karya Allah bukan hanya kita lakukan dengan akal pikiran kita semata, namun harus direspon dengan Iman.
 Yesus menerangkan bahwa "Dilahirkan kembali" bukanlah masalah fisik, melainkan tentang memasuki kehidupan baru sebagai hasil karya ajaib Roh Kudus. Memasuki kehidupan kekal ini dimungkinkan oleh pengorbanan Kristus di kayu salib. Ia menanggung hukuman untuk menggantikan manusia yang berdosa. Akan tetapi, hal ini sulit dipahami Nikodemus. Maka Tuhan Yesus mengambil suatu kisah dalam PL untuk menolong Nikodemus memahami hal tsb.

 Sebagai seorang Farisi, Nikodemus tentu akrab dengan PL yang di dalamnya termasuk juga kitab-kitab Taurat. Ia tentu tahu kisah ular di padang gurun (Bil 21:4-9). Yesus mengibaratkan kematian-Nya di kayu salib seperti kisah digantungnya ular tembaga di sebuah tiang. Itu terjadi karena orang-orang Israel memberontak melawan Allah. Sebagai hukuman, Allah mengirimkan ular-ular tedung untuk memagut mereka. Ketika Musa berdoa kepada Allah, Allah memerintahkan Musa untuk membuat ular tembaga dan menggantungnya. Siapa saja yang dipagut ular harus memandang ular tembaga itu, bila ingin disembuhkan. Begitu pulalah kematian Yesus di kayu salib (band. Yoh 12:32-34). Manusia yang telah berdosa karena melawan Allah harus menerima hukuman. Namun Kristus rela menanggung semua dosa manusia dan mereguk murka Allah. Dengan karya-Nya, Ia menebus manusia dan membebaskan manusia dari hukuman.

 Respons seseorang pada karya Yesus akan menentukan apa yang akan ia terima: hidup kekal atau hukuman (ayat Yoh 12:14-15). Bagi yang tidak percaya, dengan tegas disebutkan bahwa mereka akan binasa (Yoh 12:16) dan dihukum (Yoh 12:18*). Hukuman ini diberikan karena sebelumnya kesempatan untuk menerima terang Yesus telah diberikan, tetapi manusia menolak dan lebih suka melakukan yang jahat (ayat Yoh 12:19). Namun orang yang memberi respons positif bagai orang yang datang kepada terang (Yoh 12:21). Niscaya ia diselamatkan dan beroleh hidup kekal (Yoh 12:16-17).Sudahkah kita merespons karya Yesus dan menerima anugerah keselamatan?
4. Marende B.E. No. 501:1, Sai ditogutogu Jesus. 

1.                    Sai ditogutogu Jesus tondingki na gale i,
Asa unang be au ganggu dipanoguonNa i, maradian do rohangku,
Molo Huhaposi i nang sitaonon dipassonggop sai jonok do Tuhanki.
Nang sitaonon di pasonggop, sai jonok do Tuhanki.

5. TANGIANG ALE AMANAMI





Jumat, 20 Juni 2014


Ev: Yehezkiel 2:1-5 Ep: 2 Korintus 11:16-17

Pendahuluan
Yehezkiel adalah anak Busy dan merupakan keluarga Imam. Dia dibawa bersama-sama dengan masyarakat lainnya ke Tel-Abib dekat dengan sungai Kebar pada pembuangan pertama tahun 597). Dia sudah menikah dan istrinya meninggal sekitar tahun 587 tepatnya sebelum atau pada masa penyerangan Yerusalem (24: 18). Pada tahun kelima setelah pembuangan (593/2), dia dipanggil menjadi nabi seperti yang tertulis dalam Yehezkiel 29: 17 dan kenabiannya berakhir pada tahun 571. Dalam pemberitaannya, ia mendesak, memperingatkan, dan menghibur sesama penderitanya di dalam pembuangan.
Pesan yang disampaikan Nabi Yehezkiel berasal dari Allah yang diterimanya pada masa awal pembuangan, itu sebabnya Kitab Yehezkiel ini menjadi tahap baru dari nubuatan di Israel dan memiliki ciri yang berbeda dengan kitab para nabi lainnya. Yehezekiel sering dipanggil Allah dengan sebutan “anak manusia”, suatu gelar yang menitik-beratkan kerendahan Yehezekiel sebagai seorang manusia saja. Dalam melaksanakan panggilan kenabiannya, Yehezekiel banyak sekali memakai symbol dan gambaran disamping melibatkan kehidupan pribadinya sendiri. Disamping sebagai orang yang diberi kemampuan untuk melihat dan mengetahui hal yang supra-Normal, Yehezekiel adalah seorang yang tidak pernah berhenti berpikir memakai otaknya. Panggilan-panggilan(vision) yang diterimanya selalu diuraikan dengan sejelas mungkin, hal itu nampak misalnya dalam uraian tentang Kemuliaan Tuhan yang dilihatnya (pasal 1-3),tentang kota Yerusalem dan bait Allah yang baru (pasal 40-48). Selain sebagai nabi Yehezkiel juga seorang imam. Perpaduan duifungsi ini juga hanya dimulai oleh Yehezkiel. Dan seluruh pemberitaan Yehezekiel tidak bisa dilepaskan dari keunikan pribadinya, dan karena itu tidak bisa disamakan begitu saja dengan berita dari nabi-nabi lainnya.
Pendalaman Teks
Dalam ayat 1, dikatakan, FirmanNya kepadaKu, ini berarti Allah sendiri langsung menyatakan diriNya kepada Yehezkiel. Dalam psikologi Ibrani, ucapan seseorang dianggap dalam pengertian tertentu sebagai sebagian dari kedirian si pembicara yg mempunyai keberadaan sendiri yg nyata. Maka ucapan atau Firman Allah dalam Alkitab ialah pernyataan diriNya sendiri, dan kata davar bisa menunjuk kepada berita-berita tersendiri yg diberikan kepada para nabi, atau kepada isi penyataan dalam keseluruhannya. Kata itu dipakai 394 kali tentang komunikasi dari Allah kepada manusia. Davar mengandung kuasa yg serupa dengan kuasa Allah yg mengucapkannya (Yes 55:11), melaksanakan kehendak-Nya tanpa halangan, harus diperhatikan oleh para malaikat dan manusia (Mazm 103:20;  Ul 12:32), tetap untuk selama-lamanya (Yes 40:8), dan tak akan kembali kepada Allah tanpa digenapi lebih dahulu ( Yes 55:11). Dalam Mazm 119,  davar lebih menunjuk kepada firman Allah yg tertulis. Konsep Logos dalam PB diterjemahkan dari  istilah davar dalam PL. Dalam PB istilah logos sangat luas, namun intinya Logos ialah amanat dari pihak Allah yg dinyatakan dalam Yesus Kristus, yg wajib diberitakan dan ditaati.
 Yehezkiel dipanggil atau disebut “Anak Manusia”, istilah perkataan itu dapat diartikan untuk menyatakan bahwa manusia adalah lemah, fana. Kemudian istilah Anak Manusia (Ibr. Ben Adam, dalam tradisi Israel biasanya digunakan untuk menyebutkan jabatan Nabi. Dalam PB, Jesus juga disebut sebagai Anak Manusia. Sebutan Anak manusia dalam diri Yesus memiliki fungsi, Ia datang dalam misi penebusan melalui penderitaan (Mat 12:14; 17:22; 20:18; Mark 9:31; Luk 9:44). Istilah Anak manusia juga sangat menarik karena merujuk kepada mesias, yang diurapi.  Jika Allah berfirman itu sekaligus menyatakan hakikat Allah. Ini berati Allah yang transenden tidak jauh dari manusia. Lalu dikatakan “ bangun dan berdiri. Ungkapan bangun berarti sebelumnya Yehekiel tersugkur, atau bersujud, sikap ini menunjukkan sikap merendahkan diri dihadapan Tuhan. Lalu kata bangun dilanjutkan dengan kata “berdiri” Sikap berdiri merupakan sikap hormat, respon kepada Tuhan dan menujukkan sikap “siap” dalam menerima sesuatu atau pesan dari yang menyampaikan.Istilah kalimat” bangun dan bangkit” dapat juga diartinya proses transformasi dari hidup dalam perbudakan ke dalam hidup yang merdeka.
Dalam Ayat 2: Menekankan bahwa dalam hidup manusia perlu bangkit, perlu aktif, lalu Tuhan akan memberikan kekuatan kepada manusia untuk melakukan perintahNya. Peransentral Tuhan dalam aktifitas manusia tidak biasa diabaikan.
Dalam ayat 3, ditekankan tentang Pengutusan. Misi pengutusan Yehekiel sangat unik, karena ia hidup dan di utus ke tengah-tengha pembuangan, hal ini berbeda dengan nabi-nabi sebelumnya. Ia diutus kepada bangsa pemberontak (goyim), istilah goyim sebelumnya tidak dipakai untuk orang Israel. Pernyataan ini sekaligus menekankan bahwa Israel telah kehilangan martabatnya sebagai umat pilihan Allah, mereka telah kehilangan identitas, jati diri sebagai umat perjanjian. Mereka telah seperti seorang anak yang memberontak terhadap Ayahnya. Pergeseran ini adalah konsekuensi dan ketidaksetiaan umat Israel kepada Tuhan. Mereka tidak lagi memeliharan kesetiaan dan kekudusan hidup.Allah menyebut mereka bangsa pemberomtak: Keras kepala (khasheh) secara hurifiah diartikan: keras, kejam, berat, keras kepala, keras, sulit,  kaku leher, dan tegar hati (chazag) secara hurufiah diartikan kuat, perkasa, sakit, lebih kuat, lebih keras, terpanas, kurang ajar, keras.
Dalam ayat 4; ditekankana tentang fungsi dan otoritas orang mengutus dan yang di utus. Yehezkiel diutus sebagai duta Allah, nabi Allah ditengah-tengah Israel.
Dalam ayat 5: Allah menekankan supaya Yehezkiel mampu bertahan, meski upayanya gagal dalam penilaian manusia, tidak berguna bagi Israel, tapi mereka tidak memiliki alasan tidak ada orang yang tidak menasehati mereka, mereka harus merasakan ada nabi di tengah-tengah mereka yang menyampaikan Hukuman bagi orang berdosa  dan keselamatan bagi orang yang bertobat.

Refleksi/Renungan

(Panggilan, visi, Yehekiel dalam nats ini juga menyatakan bagaimana Yesus menampakkan diri pada Saulus, dalam Kis 26:16). Kita semua memiliki panggilan untuk menyuarakan suara KENABIAN. Tuhan selalu memiliki jalan tersendiri untuk menyatakan kerajaanNya. Dalam pergumulan hidup barang kali kita sering beranggapan bahwa Tuhan itu jauh dari hidup kita, padahal Allah tidak pernah menjauhkan diriNya dari kita. Tetapi manusialah yang membuat dirinya jauh dari Allah karena berbuat dosa, sehingga akibat dosa itu kita merasakan kekawatiran , rasa takut, terbebani (Adam dan Hawa). Penderitaan bisa saja akibat dari perbuatan dosa, meskipun tidak semua hal penderitaan yang dialami seseorang bukan karena dosanya sendiri (Ayub), banyak anak-anak yang tidak tahu apa-apa harus mengalami nasip yang tragis, dibuang, diterlantarkan. Umat Israel mengalami penderitaan karena akibat dosa yang mereka perbuat. Namun ditengah-tengah pergumulan mereka, Allah memanggil Yehezkiel untuk menyampaikan firmanNya(=Menyatakan keberadaan Allah). Panggilan kepada Yehezkiel sekaligus menyatakan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umatNya, Allah senantiasa mengasihi umatNya. Dalam pergumulan hidup yang kita alami Tuhan meminta kita untuk selalu mengenal diri kita, bersujud kepadaNya, tidak putus asa, tapi tetap “bangkit” (aktif), bukan fasif. Tuhan telah mengangkat kita sebagai AnakNya, Tuhan selalu memberi penghiburan bagi kita,melalui Roh Kudusnya, untuk memampukan dan menguatkan kita.
Yesus adalah yang telah diutus Allah, untuk membawa misi keselamatan, meskipun dia harus melewati penderitaan. Yesus  telah memperbaharui status kita dari hamba/budak, menjadi orang yang merdeka, kita telah diangkat dari perbudakan dosa. Tuhan  telah memilih para hambanya melalui gerejaNya (Pendeta, Guru, Bibelvrow, Diakones, Evanggelis, Sintua) untuk menjaga dan memelihara hidup kerohanian umat Allah, agar kita senantiasa menjadi umat yang setia, taat kepada Tuhan bukan menjadi “pemberontak” yang menolak firman Tuhan(menolak kehadiran Tuhan). Para hamba Tuhan juga harus kuat dalam menghadapi masalah-masalah dalam pelayanan, meskipun kita harus mendapat penolakan, tidak di dengarkan jemaat kita, bahkan tidak menghiraukan kita. Jika Tuhan yang memilih kita, tentunya Tuhan yang memanpukan dan memberikan kuasa, (power, ototitas)kepada kita untuk menjalankan fungsi kita untuk menyuarakan suara kenabian.
Kehancuran Yerusalem, pembuangan ke babel, identitas umat Israel sebagai bangsa pemberontak, Dapat menjadi refleksi dan menjadi gambaran kondisi kehidupan kita pada saat ini. Kita melihat bagaimana kehancuran moral, spiritual manusia pada saat ini, kita melihat bagaimana kekuatan duniawi (babelisme:kapitalisme, konsumerisme, individualisme, hedonisme) pada saat ini menjajah kehidupan kita, kita ditawan oleh nafsu dan kerakusan. Kita telah kehilangan jati diri dan identitas kita sebagai bangsa Indonesia, sebagai umat beragama, sebagai orang Kristen, sebagai jemaaht HKBP. Sebagai warna Negara kita sering tidak menunjukkan jati diri kita menjadi warga yang bertanggungjawab, sebagai umat beragama kita sering melanggar norma-noma, nilai-nilai kemanusiaan, sebagai orang Kristen kita sering menunjukkan sikap yang tidak etis, (tidak memiliki etika), kualitas hidup kita, baik secara moral, dan spiritual, tidak menunjukkan kecerdesan yang sehat. Hendakanya kita melepskan sifat dan sikap kita sebagai manusia “pemberontak”. Kita hendaknya menjadi manusia yang taat dan beriman, hal itu nampak dalam kualitas: kecerdesan emosional, kecerdedasan, intelektual, kecerdasan spiritual. 
BAHAN SERMON MINGGU SEXAGESIMA, 23 Februari 2014
Ev. :Psalm. 119 :33 – 40
TOPIK : Mangantusi Jala manghangoluhon Hata ni Debata

Patujolo
Molo tajaha do isi buku psalmen na adong di Bindu 119 tangkas do tarida diondolhon parpsalmen i taringot tu ngolu na mardalan di dalan lomo ni roha ni Debata. Jala tarida do nang angka ragam ni na masa na di pangkilalahon parpsalmen di hatiha i ima tung mansai torop halak na manadingkon patik ni Debata, adong parjahat na mangaropi, godang naung madua roha manang meoleol sandok tahe parange nasida i nga lam mambahen ngolu nasida gabe lam lumlam manang tidak teratur. Alai nang pe masa angka na jorbut i ndang gabe mangihut parpaslmen on, ala tu Debata do ibana mangido huhut pasahathon dirina asa tongtong boi ibana mangolu hombar tu na pinatikhon ni Debata di ngoluna. Jala tarida do kedekatan ni Parpsalmen i dohot Debata pola do didok di ayat 10 : “Sai hulului do Ho sian nasa rohangku unang tung loas ahu lilu sian angka tonaMi. Lapatanna : Boi do berengonta tangkas kedekatan pribadi ni Parpsalmen i dohot Debata, dibahen ibana do Debata gabe haposan di ngoluna,memiliki sikap prinsipil yang kuat /Nunga Hupillit dalan Hasintongan (Ay. 30 )
Hatorangan Turpuk
Ay. 33-37 : Adong do 5 hali hata na mandok hata “sai” na martudutudu ma i laho mangelek manang meminta dengan kerendahan hati tu adopan ni Debata huhut muse manang na piga pandohan na dipangke di turpuk on na marpardomuan tu hata ni Debata i ma :AturanMi (Ay.33), TonaMi (Ay.34),PanindangionMu (Ay. 35), dalanMi (Ay. 37). Tangkas ma tarida denggan do parsaoran ni Parpslmen on dohot Debata jala dijagahon ibana do dirina asa tongtong mangaradoti Patik dohot Uhum ni Debata di ngoluna siganup ari asa marhite panindangion ni Parpslmen i lam marningot ma bangso i tu pambahenan ni Debata naung paluahon nasida sian parhatobanon Misir, di lehon do PatikNa tu bangso i asa mangolu nasida dibagasan haporseaon na sintong, jala patik i ndang rajuman i berbentuk uhuman sian Debata alai na margunamai laho pauliulihon nasida gabe dalan di nasida laho mangantusi lomo ni Debata sian pardalanan ngolu ni nasida.
Ay. 38- 40: “ Dipangido parpslmen i do gabe parhitean ibana laho manghajongjongkon bagabaga ni Debata ai na pos do rohana saluhut na masa di ngolunai dao dumenggan dope Uhum ni Debata, ala ni i ma tutu tarido sihol ni roha di ibana  aho mansuarahon hatigoran i ala nunga lam sursar ngoluni bangso i hatiha i. Adong do tolu sintuhu na adong di turpuk on i ma :
Manghalomohon lomo ni roha ni Debata ndada lomonta taridama i molo martangiang hita mangido unang tarippu  aha na tapangido i pintor terkabul, ai ndang hita naummboto aha na dumenggan di ngolunta on alai Debata do.  Hombar tu pangidoantai ingkon dohononta ma sai saut ma lomo ni rohaM, asa tarida saurdot pangidoanta dohot lomo ni roha ni Debata.
Mardalan di dalan ni Debata lapatanna ada sikap setia  dan tidak mendua hati, fokus kepada satu jalan saja yakni jalan Tuhan. Di ay. 14, 36 tarida do tutu sikap parsingantungon ni parpsalmen i tu Debata, alani i do dipangido asa tongtong jaga hita di rohanta. Ala “roha” i ma bagian ni parbagason ni jolma, na mangonjar pambahenan manang pangalahonta, alni i do molo jaga do hita disi, saluhut angka sangkap na roa pe mago do i. Alai molo Debata na manggohi rohanta i tau ma hita laho mardalan di lomo ni roha ni Debata
Mangolu di bagasan hatigoran ni Debata, ndada hatigoran ni jolma.
III. Sipahusorhusoron
Pangke ma saluhut na adong di ho laho pasauthon lomo ni roha ni Debata
Janganlah hanya sebagai pendengar akan Hukum dan Aturan Allah saja melainkan jadilah pelaku Firman Allah.
Ragam do hasurungan ni angka jolma na mangolu di lomo roha ni Debta i ma “ingkon martua do ibana di ngoluna i.
BAHAN SERMON MINGGU SEXAGESIMA, 23 Februari 2014
Ev. :Psalm. 119 :33 – 40
TOPIK : Mangantusi Jala manghangoluhon Hata ni Debata

Patujolo
Molo tajaha do isi buku psalmen na adong di Bindu 119 tangkas do tarida diondolhon parpsalmen i taringot tu ngolu na mardalan di dalan lomo ni roha ni Debata. Jala tarida do nang angka ragam ni na masa na di pangkilalahon parpsalmen di hatiha i ima tung mansai torop halak na manadingkon patik ni Debata, adong parjahat na mangaropi, godang naung madua roha manang meoleol sandok tahe parange nasida i nga lam mambahen ngolu nasida gabe lam lumlam manang tidak teratur. Alai nang pe masa angka na jorbut i ndang gabe mangihut parpaslmen on, ala tu Debata do ibana mangido huhut pasahathon dirina asa tongtong boi ibana mangolu hombar tu na pinatikhon ni Debata di ngoluna. Jala tarida do kedekatan ni Parpsalmen i dohot Debata pola do didok di ayat 10 : “Sai hulului do Ho sian nasa rohangku unang tung loas ahu lilu sian angka tonaMi. Lapatanna : Boi do berengonta tangkas kedekatan pribadi ni Parpsalmen i dohot Debata, dibahen ibana do Debata gabe haposan di ngoluna,memiliki sikap prinsipil yang kuat /Nunga Hupillit dalan Hasintongan (Ay. 30 )
Hatorangan Turpuk
Ay. 33-37 : Adong do 5 hali hata na mandok hata “sai” na martudutudu ma i laho mangelek manang meminta dengan kerendahan hati tu adopan ni Debata huhut muse manang na piga pandohan na dipangke di turpuk on na marpardomuan tu hata ni Debata i ma :AturanMi (Ay.33), TonaMi (Ay.34),PanindangionMu (Ay. 35), dalanMi (Ay. 37). Tangkas ma tarida denggan do parsaoran ni Parpslmen on dohot Debata jala dijagahon ibana do dirina asa tongtong mangaradoti Patik dohot Uhum ni Debata di ngoluna siganup ari asa marhite panindangion ni Parpslmen i lam marningot ma bangso i tu pambahenan ni Debata naung paluahon nasida sian parhatobanon Misir, di lehon do PatikNa tu bangso i asa mangolu nasida dibagasan haporseaon na sintong, jala patik i ndang rajuman i berbentuk uhuman sian Debata alai na margunamai laho pauliulihon nasida gabe dalan di nasida laho mangantusi lomo ni Debata sian pardalanan ngolu ni nasida.
Ay. 38- 40: “ Dipangido parpslmen i do gabe parhitean ibana laho manghajongjongkon bagabaga ni Debata ai na pos do rohana saluhut na masa di ngolunai dao dumenggan dope Uhum ni Debata, ala ni i ma tutu tarido sihol ni roha di ibana  laho mansuarahon hatigoran i ala nunga lam sursar ngoluni bangso i hatiha i. Adong do tolu sintuhu na adong di turpuk on i ma :
Manghalomohon lomo ni roha ni Debata ndada lomonta taridama i molo martangiang hita mangido unang tarippu  aha na tapangido i pintor terkabul, ai ndang hita naummboto aha na dumenggan di ngolunta on alai Debata do.  Hombar tu pangidoantai ingkon dohononta ma sai saut ma lomo ni rohaM, asa tarida saurdot pangidoanta dohot lomo ni roha ni Debata.
Mardalan di dalan ni Debata lapatanna ada sikap setia  dan tidak mendua hati, fokus kepada satu jalan saja yakni jalan Tuhan. Di ay. 14, 36 tarida do tutu sikap parsingantungon ni parpsalmen i tu Debata, alani i do dipangido asa tongtong jaga hita di rohanta. Ala “roha” i ma bagian ni parbagason ni jolma, na mangonjar pambahenan manang pangalahonta, alni i do molo jaga do hita disi, saluhut angka sangkap na roa pe mago do i. Alai molo Debata na manggohi rohanta i tau ma hita laho mardalan di lomo ni roha ni Debata
Mangolu di bagasan hatigoran ni Debata, ndada hatigoran ni jolma.
III. Sipahusorhusoron
Pangke ma saluhut na adong di ho laho pasauthon lomo ni roha ni Debata
Janganlah hanya sebagai pendengar akan Hukum dan Aturan Allah saja melainkan jadilah pelaku Firman Allah.
Ragam do hasurungan ni angka jolma na mangolu di lomo roha ni Debta i ma “ingkon martua do ibana di ngoluna i.