Minggu, 01 Juli 2012

PERANAN KOMUNIKASI-MEDIA MASSA DALAM PELAYANAN GEREJA


PERANAN KOMUNIKASI-MEDIA MASSA DALAM PELAYANAN GEREJA

I. Pendahuluan
Fenomena abad 21 diwarnai perkembangan era informatika, dan produk informatika berkembang dengan pesat, sehingga komunikasi membawa berbagai perubahan dalam kehidupan manusia secara cepat.
            Perubahan tersebut sangat berpengaruh ke dalam kehidupan manusia baik dalam dimensi budaya, pola pikir, nilai-nilai sosial dan keberagamaan. Bahkan turut menentukan interaksi dan relasi sosial antar masyarakat. Salah satu pengaruhnya adalah di dalam mengambil keputusan dimana manusia dalam era informatika sudah lebih dahulu memiliki berbagai data dan pertimbangan, sehingga keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat guna.
Media massa kini memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Namun, ketika media massa mengalami perkembangan yang sangat maju, pihak yang menanganinya semakin berusaha untuk memberikan informasi dan hiburan yang menarik yang tanpa disadari bahwa informasi dan hiburan yang diberikan bisa merusak nilai-nilai yang ada pada masyarakat. Bagaimana media massa berperan dalam kehidupan manusia. Untuk memahami tentang media massa, maka perlu mengkajinya. Apakah sebenarnya media massa itu? Bagaimana peranan media massa dalam kehidupan manusia? Apakah media massa berperan tehadap pelayanan gereja? Sehubungan dengan itu dalam pembahasan ini penulis mencoba mengangkat topik “Peranan Komunikasi-media massa dalam pelayanan Gereja”.
II. Tinjauan historis Komunikasi Media Massa
Proses berkomunikasi paling banyak dilakukan oleh manusia. Pada awalnya komunikasi antar manusia sangat bergantung pada komunikasi  dari mulut ke mulut. Catatan sejarah yang berkaitan dengan penerbitan media massa bertolak dari penemuan  mesin cetak oleh Johannes Gutenberg yang berasal dari Jerman. Ia mencetak sebuah buku pers pada tahun 1453. Sebenarnya ide surat kabar atau koran sudah setua zaman Romawi kuno dimana setiap peristiwa yang terjadi setiap hari diterbitkan dalam bentuk gulungan yang disebut dengan “Acra Diurna  (artinya kegiatan harian) dan mulai berkembang sekitar tahun 1612.[1] Di Indonesia perkembangan kegiatan jurnalistik dimulai pada masa pendudukan Belanda, dan kemudian  berkembang pada masa Jepang berkuasa di Indonesia.[2] Pada pertengahan abad ke 19, ditemukan alat komunikasi yang dinamakan telegraf. Telegraf merupakan alat dasar untuk membawa pengetahuan  manusia ke media massa elektronik. Telegraf yang pertamakalinya dikembangkan di Inggris dan Amerika. Kemudian ditemukan pula telepon oleh Graham Bell. Dalam sejarahnya kemudian para ahli mengembangkan penemuan-penemuan baru sekaligus mendirikan tempat-tempat penunjang yang terkait dengan penemuannya. Misalnya pembuatan stasiun televisi, stasiun radio, baik swasta maupun pemerintah, percetakan koran dan majalah. Pada tahun 1970 mulai dikembangkan internet. Teknologi multimedia juga terus dikembangkan, mulai dari film (VCD/DVD), informasi online, teknologi seluler dan sebagainya. Hingga kini inovasi multimedia terus dikembangkan.[3]
Media  massa adalah istilah yang mulai dipergunakan pada tahun 1920 untuk mengistilahkan jenis media  yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat luas. Dalam istilah sehari-hari , istilah ini sering disingkat dengan media.[4]
Dengan demikian perkembangan komunikasi media massa didorong oleh perkembangan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sangat mempengaruhi  perkembangan mental manusia dan boleh dianggap sebagai pencapaian tertinggi dan paling karakteristik dalam kebudayaan manusia. Ilmu diyakini sebagai puncak dan penyempurnaan semua aktivitas manusiawi.[5] Manusia mempunyai kedekatan dengan komunikasi, komunikasi menjadi inheren dengan kehidupan manusia.Tanpa komunikasi, pikiran manusia tidak akan berkembangan dengan sebenarnya; akan tetapi berada dalam keberadaan yang abnormal dan sukar diterangkan apakah bersifat manusiawi atau bersifat kasar. Manusia adalah makhluk sosial, kemanusiaannya harus dibuktikan secara utuh melalui proses interaksi dengan manusia lainnya, dalam hal inilah manusia disebut sebagai homo communicus. [6]
Komunikasi menjadi bagian integral dari kehidupan manusia. Seiring dengan perkembangan yang dicapai umat manusia di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, maka komunikasi antar manusia mengalami peningkatan yang amat cepat, menyebabkan dunia yang luas semakin menjadi kecil, sempit dan permasalahan diberbagai belahan dunia menjadi transparan dan cepat diketahui oleh dunia lain. Percepatan perkembangan teknologi komunikasi seperti itu, terutama media komunikasi manusia memiliki dimensi ganda dan sifat yang ambivalen. Media sangat berperan strategis untuk mempercepat informasi sesuatu peristiwa di suatu wilayah sehingga bisa diketahui oleh banyak orang di wilayah lain. Pada sisi lain, media komunikasi massa (radio, televisi, film dan surat kabar) tak dapat disangkal acapkali menyuguhkan serta mentransfer nilai, pemikiran gagasan yang tidak senafas dengan nilai yang dianut oleh masyarakat.[7]
Media massa merupakan institusi sosial baru, yang berkaitan dengan produksi dan distribusi pengetahuan dalam pengertian luas. Institusi media massa pada dasarnya terbuka, beroperasi dalam dimensi publik untuk memberikan saluran komunikasi reguler bagi berbagai pesan yang dimungkinkan secara kultural dan teknis, mendapat persetujuan sosial dan dikehendaki oleh banyak individu.[8]
III. Etimologi
3.1. Komunikasi
Van Doorn & Lammers menyatakan komunikasi  merupakan  sebagai sebuah  tindakan, yang menurutnya komunikasi  dilihat dari dua sisi yaitu individu dan sosial. Dari dua sisi tersebut  dibagi menjadi  dua tipe yakni bersifat obyektif (dari luar) yang melahirkan kegiatan dan cara, dan subyektif (dari dalam) yang melahirkan proses psikis dan sikap. Sedangkan dari sisi sosial ia membagi  komunikasi  obyektif yang  melahirkan interaksi dan relasi sosial, serta subyektif yang melahirkan komunikasi dan hubungan sosial.
Koncaid & Schramn menyatakan komunikasi  sebagai sebuah proses yang artinya merupakan proses berbagi/menggunakan sebuah informasi bersama dan pertalian para peserta dalam proses informasi tersebut dinamakan komunikasi. Ciri adanya komunikasi minimal ada dua pihak atau lebih dan ada proses berbagi informasi sehingga harus  selektif dalam memilih alat komunikasi dan memilih pola yang sesuai untuk  menggambarkan pikiran. Langkah-langkah dalam sebuah proses komunikasi adalah menciptakan informasi, menyampaikan informasi, memperdalam perhatian, menafsirkannya, memahaminya lalu melaksanakannya serta timbul pengertian bersama. Selanjutnya Berlo mengatakan komunikasi  sebagai cara untuk mempengaruhi  orang lain. Oleh sebab itu unsur dalam komunikasi meliputi  adanya sumber (source), Pesan (message), saluran (channel), penerima (recieve), dan akibat (effect). Lebih jauh Berlo memberikan ilustrasi  bahwa seorang dokter yang mendiag-nosa pasien, maka ia bertindak sebagai sebuah sumber (source), pasien sebagai penerima, message-nya adalah masalah kesehatan, channelnya adalah udara (karena merupakan pola komunikasi dan effect nya adalah perubahan sikap dari sang pasien.[9]
Dengan demikian komunikasi dapat disebut sebagai:[10]
  • Komunikasi sebagai elemen sosial. Komunitas sosial apapun bentuknya  sangat dipengaruhi oleh komunikasi  tertentu, baik  komunikasi antar individu, kelompok, organisasi fungsional, komunikasi antar budaya dan komunikasi massa.
  • Komunikasi sebagai ekspresi hakekat manusia. Hakekat manusia adalah mahluk sosial, oleh sebab itu komunikasi elemen penting dalam kehidupan bersama.
  • Komukasi sebagai medium relasi.
  • Komunikasi sebagai medium misioner.  Gereja yang melihat  kemajuan sistem komunikasi merasa perlu untuk mengadopsi sistim tersebut untuk menunjang  pelayanan misioner. Dalam hal ini gereja harus memahami dan menyikapi bahwa peran media komunikasi sangat perlu disikapi secara positif untuk menunjang pelayanan (bandingkan  seruan surat pastoral gereja RK dalam “Communio et progression”,   23 Mei 1971, yang menekankan pentingnya  profesional komunikasi bagi petugas gereja dan “Aetus Novae”, 22 Pebruari 1992, yang mendesak gereja untuk memperbaharui  pola pemahamannya atas perkembangan dan peranan positif media komunikasi).
3.2. Media massa
Kata media berasal dari bahasa Latin, yaitu medius, yang berarti tengah. Media berguna untuk menyebarluaskan pesan-pesan kepada khalayak umum.[11]
Dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia, media berarti alat, penghubung, perantara atau sarana komunikasi seperti: koran, majalah, radio, TV film, foster, spanduk. Tugas lain dari media adalah bertindak sebagai pengontrol pemerintah, menyediakan informasi yang penting untuk pembangunan, menyuarakan mereka yang tidak bersuara, menjadi sarana pendidikan, menyediakan hiburan bagi masyarakat dan mempertemukan orang dengan kebudayaan.[12] Sedangkan massa adalah kumpulan yang banyak sekali (berkumpul dalam satu tempat atau tersebar).[13] Media massa adalah sarana komunikasi yang digunakan sebagai saluran untuk menyampaikan pesan atau komunikasi oleh komunikator atau penyampai kepada khalayak luas atau massal dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis, seperti: radio, film, surat kabar dan TV.[14]

Dari segi etimologis, ‘media massa’ adalah ‘komunikasi massa’. Komunikasi massa adalah sebutan yang lumrah di kalangan akademis untuk studi ‘media massa’. Dari segi makna, ‘media massa’ adalah alat/sarana untuk menyebar-luaskan berita, analisis, opini, komentar, materi pendidikan dan hiburan.[15] Dengan demikian komunikasi media massa sangat urgen untuk menyampaikan pesan atau komunikasi oleh komunikator kepada masyarakat luas[16]
Jenis-jenis media massa
Media massa dibagi dalam dua kategori yang media massa tradisional dan media massa modern.[17]
a. Media massa tradisional.
Media massa tradisional adalah media massa dengan otoritas dan memiliki  organisasi yang jelas sebagai media massa seperti:
§  Informasi dari lingkungan diseleksi, diterjemahkan dan didistribusikan
§  Media massa menjadi perantara dan mengirim informasinya melalui saluran tertentu
§  Penerima pesan tidak pasif dan merupakan bagian dari masyarakat dan  menyeleksi informasi yang mereka terima
§  Interaksi antara sumber berita dan penerima sedikit.
§  Adapun jenis-jenis  media massa  tradisional meliputi: surat khabar, majalah, radio, televisi, film (layar lebar)
  1. Media massa modern. Media massa modern misalnya internet dan telephon selular.  Media massa ini lebih modern dan memiliki ciri-ciri seperti:
§  Sumber dapat mentransmisikan pesannya kepada banyak penerima (melalui SMS atau internet)
§  Isi pesan tidak hanya disediakan oleh lembaga atau organisasi namun juga oleh individual
§  Tidak ada perantara, interaksi terjadi pada individu
§  Komunikasi mengalir (berlangsung) ke dalam
§  Penerima yang menentukan waktu interaksi
 Sementara menurut Hafied Canggara, media adalah  alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak ramai. Dalam hal ini, ia menggolongkan media tersebut ke dalam beberapa golongan, yaitu:
§  Media Pribadi: Komunikasi yang disampaikan melalui orang tertentu. Hal ini biasanya banyak dilihat bagi masayarakat yang tinggal di pedesaan. Namun dalam perkembangan modern ini komunikasi media pribadi ini dapat dilakukan memalui surat, telepon, hand phone
§  Media Kelompok: Komunikasi yang melibatkan lebih dari 15 peserta. Komunikasi ini misalnya dapat dilihat dalam kegiatan rapat, seminar, dan konferensi.
§  Media Publik: Media publik biasanya dihadiri oleh lebih dari dua ratusan orang, misalnya: rapat akbar, rapat raksasa.
§  Media Massa: Jika khalayak tersebar tanpa diketahui di mana mereka berada, maka yang digunakan adalah media massa, alat yang digunakan media massa ini adalah surat kabar, film, radio, televisi, dll.[18]

3.2.1.      Manfaat Media Massa
Salah satu peranan media adalah mempengaruhi sikap dan perilaku orang/public. McDevitt  mengatakan, “Media cukup efektif dalam membangun kesadaran warga mengenai suatu masalah (isu).” Lindsey berpendapat, “Media memiliki peran sentral dalam menyaring informasi dan membentuk opini masyarakat.” Sedangkan para pemikir sosial seperti Louis Wirth dan Talcott Parsons menekankan pentingnya media massa sebagai alat kontrol sosial.[19]
 Dalam ilmu komunikasi, pemberitaan komunikatif dapat dilakukan melalui beberapa media, yakni:[20]
1.      Media berfungsi sebagai sarana untuk mengkomunikasikan makna melalui berita antar pribadi.
2.      Media mengkomunikasikan antar kelompok dan antar pribadi.
3.      Media massa atau publik mengkomunikasikan kepada semua orang tanpa batas usia, status sosial, budaya dan agama. Misalnya: televisi, surat kabar dan lain-lain.[21]
Dalam era informatika masa kini, media massa memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara dan sekaligus menjadi kriteria untuk membenarkan informasi tentang suatu berita. Sekalipun setiap media massa memiliki kualitas masing-masing, namun setiap media massa memiliki ciri khas, baik dari segi metode pemberitaan, isi berita maupun keabsahan kebenaran yang diinformasikan. Selain itu, media massa memiliki orientasi pembaca, pendengar dan pemirsa masing-masing sehingga untuk memanfaatkan media massa dalam rangka mengkomunikasikan Injil Kristus harus mempertimbangkan latar belakang setiap media massa tersebut.
Informasi atau berita yang disampaikan melalui media massa mempunyai karakteristik tersendiri sesuai dengan latar belakang kepemilikan dan orientasi media massa tersebut. Oleh karena itu, untuk memanfaatkan media massa yang ada perlu diperhatikan dan dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut:[22]
1.      Pengorganisasian. Media massa selalu dikelola oleh suatu lembaga atau badan yang biasanya terpisah dari kelembagaan gereja.
2.      Karakteristik, sifat media massa:
2.1.Informasi dari media selalu bersifat satu arah. Sifatnya monolog dan kurang dialogis sekalipun harus diakui bahwa akhir-akhir ini berbagai media massa mulai membuka kemungkinan terjadinya dialog interaktif.
2.2.Informasi melalui media massa selalu bersifat meluas dan serentak. Artinya, pemirsa, pendengar atau pembaca tidak dibatasi oleh daerah baik desa maupun kota, muda atau tua dan batas-batas sosial lainnya. Oleh karena itu memanfaatkan media massa harus disesuaikan dengan berita yang layak bagi umum.
2.3.Berita atau informasi dari media massa mempunyai sifat yang terbuka dan bebas dari hambatan kesukuan, agama dan budaya. Oleh karena itu setiap informasi yang ditemukan di media massa akan mendapat respon dan diperbandingkan dengan nilai-nilai yang dimiliki suku, agama dan budaya yang lain.
Pemberitaan Injl dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik lisan maupun tulisan. Khotbah misalnya, dapat dilakukan melalui media massa sekalipun harus mempertimbangkan penyajian khotbah secara tertulis. Gereja dapat memanfaatkan berbagai media massa baik untuk penyampaikan firman Tuhan, pembinaan maupun pengembangan gereja itu sendiri.[23] Dengan melihat urgensi pemberitaan media massa maka gereja perlu melakukan dua hal, yaitu:[24] Pertama; Menjadi gereja yang kreatif  dan inklusif. Kedua; Menjadi gereja yang inovatif.
            Dampak Positif dan Negatif Media Massa
Adapun pengaruh media massa pada masyarakat menyatakan, baik dalam skala mikro maupun dalam skala makro, bahwa media massa mempunyai dampak yang tidak kecil bagi masyarakat. Dampak yang sangat rentan atas pengaruh media massa bagi masyarakat adalah dampak kepada sistem sosial yang dipunyai oleh sebuah sistem masyarakat Hal ini menampakkan adanya korelasi tak terbantah antara media massa yang menghasilkan sistem nilai tertentu dengan proses pemaknaan hidup sosial masyarakat[25].
Teknologi adalah produk manusia,  artinya tidak ada teknologi tanpa manusia. Maka tanpa manusia sebagai pengguna ia tidak ada artinya. Karena manusia cenderung melakukan kejahatan, maka masalah teknologi bukan terletak pada produknya melainkan pada manusianya.[26] Sejak dekade 90-an, sudah semakin meningkat minat dan kegiatan PCS (Personal Communication System) atau sistem komunikasi yang dimiliki dan dibangun secara personal. Dampak komunikasi personal ini menimbulkan individualisme yang selalu percaya atas kemampuan diri sendiri, dengan berhubungan pada orang lain atau tanpa orang lain. Pada satu sisi, PCS ini dapat menimbulkan hal-hal negatif, misalnya menjadi orang tertutup dan tidak dapat berkomunikasi. Sedangkan dalam sisi lain, berdampak positif karena membangun percaya diri dan dapat mengakses informasi ke luar negeri dengan mudah dan menjadi manusia global.[27] Pentingnya era globalisasi diperhadapkan dengan iman dewasa ini, disebabkan oleh phase dalam dekade akhir milenium kedua ini menunjukkan awal milenium ketiga, di mana hasil daya cipta dan aplikasinya kepada kehidupan di dunia ini bukan saja mencapai peningkatan yang amat dahsyat, melainkan bergerak secara serentak dan cepat mempengaruhi segala bidang kehidupan manusia.[28]
Menurut Karl Erik Rosengren pengaruh media cukup kompleks dampaknya bisa dilihat:[29]
Pertama, skala kecil (individu) dan luas (masyarakat)
Kedua, kecepatannya, yaitu cepat (dalam hitungan jam dan hari), dan lambat(puluhan tahun/abad) dampak itu terjadi.
Media massa sangat berpengaruh terhadap pribadi manusia. Secara perlahan-lahan namun efektif, media membentuk pandangan pemirsanya  terhadap bagimana seseorang melihat pribadinya dan bagiamana seseorang seharusnya berhubungan dengan dunia sekitarnya.[30]
ü  Media memperlihatkan pada pemirsa bagaimana standar hidup yang layak bagi seorang manusia, dan pemirsa menilai apakah lingkungan mereka sudah layak atau apakah ia telah memenuhi standart itu, dan gambaran ini banyak dipengaruhi dari apa yang  pemirsa lihat.
ü  Penawaran-penawaran yang dilakukan oleh media bisa jadi mempengaruhi apa yang pemirsanya inginkan. Misalnya media mengilustrasikan keluarga yang ideal, dan pemirsanya mulai membandungkan dan membicarakan  kehidupan keluarga tersebut dimana kehidupan kelurga ilustrasi itu begitu sempurna sehingga kesalahan mereka mrnjadi menu pembicaraan sehari-hari pemirsa atau mereka mulai menertawakan tokhyang aneh dan hal-hal kecil yang terjadi pada tokoh tersebut.
ü  Media visual dapat memenuhi kebutuhan pemirsanya akan kepribadian yang lebih baik, pintar, cantik/tampan, dan kuat. Contohnya anak-anak kecil dengan cepat mengidentifikasikan mereka  sebagai penyihir seperti Harry Potter. Bagi pemirsa dewasa proses pengidolaan ini terjadi dngan lebih halus, mungkin remaja/ABG akan meniru gaya bicara idola  mereka. Meniru cara  mereka berpakaian. Semnetara untuk orang dewasa mereka mengkomunikasikan  gambar mereka lihat dengan  gambaran  yang mereka inginkan untuk mereka secara lebih halus.
Bagi remaja dan kaum muda, mereka tidak hanya berhenti sebagai penonton atau pendengar  mereka juga menjadi “penentu”dimana mereka menentukan arah media populer saat mereka berekspresi dan mengemukakan pendapatnya
Pengaruh media bisa dianalisis dari segi fungsi komunikasi massa. Harold Laswell pada artikel klasiknya tahun 1948 mengemukakan model sederhana yang sering diikuti untuk model komunikasi hingga  saat ini yakni:[31] Siapa (who)? Pesannya apa (says what)? Saluran yang digunakan (in what channel)? Kepada siapa (to whom)? Apa dampaknya (with what effect)?
Kehidupan masa kini sangat diwarnai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang hampir merambah diseluh aspek kehidupan manusia. Penghayatan hidup personal sangat kuat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan pola pikir dan mentalitas  manusia  sangat dipengaruhi  oleh penanaman nilai  yang jelas  sangat  kuat dipengaruhi oleh perubahan peradapan. Sistim komunikasi modern sangat memudahkan orang-orang untuk mendapatkan informasi dari berbagai sumber-sumber lain. Khotbah pendeta pada masa lalu menjadi referensi utama dan hal iman dan moral, namun pada saat ini jemaat dapat dengan mudah meng akses informasi melalui media cetak dan elektronik. Situasi ini menjadi tantangn bagi gereja dalam melakukan pelayanannya. Oleh sebab itu tantangan yang dihapai oleh gereja perlu disikapi dengan bijak, dengan demikian komunikasi tidak hanya dipahami sebagai sebuah metode, namun  lebih menjadi bagian integral dari kehidupan gereja yang misioner.[32]
Dampak komunikasi dapat menimbulkan perubahan  dalam diri penerima, karena menerima pesan-pesan dari sumber. Komunikasi dikatakan efektif apabila ia menghasilkan efek yang diharapkan oleh sumber seperti pengetahuan, sikap dan perilaku atau ketiganya. Perubahan-perubahan di pihak penerima ini diketahui dari tanggapan-tanggapan yang diberikan penerima sebagai umpan balik.[33] Globalisasi, industrialisasi dan media massa juga memiliki dampak  positif bagi manusia. Industrialisasi menyediakan berbagai kebutuhan bagi manusia, baik bagi hidup maupun bagi kemudahan pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan manusia. Namun  globalisasi, industrialisasi serta media elektronik juga membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia, termasuk bagi anak-anak.[34] Dalam bagian itu biasa disebut beberapa hal:[35]
§  Tayangan iklan dalam film/TV dapat mendorong pola hidup konsumerisme.
§  Pergeseran nilai-nilai agama yang dipengaruhi oleh tayangan adegan kekerasan, seks dalam film / TV.
§  Produk-produk tertentu sebagai hasil industrialisasi tidak mendorong sikap hidup yang menekankan kerja keras (misalnya, kalkulator dan lain-lain).
§  Nilai-nilai budaya dari luar dengan mudah diserap yang isinya acapkali bertentangan dengan nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa kita.
Walaupun media massa memiliki dampak negatif namun keberadaan media komunikasi  sangat penting  dalam pewartaan gereja, oleh sebab itu ada beberapa yang perlu dilakukan oleh gereja.[36]
§  Tetap memandang media komunikasi  sebagai sarana pendukung dalam pewartaan iman kepada Kristus
§  Mengetahui dan menyadari  kehadiaran media jika tidak dipergunakan  sebagaimana mestinya, akan membawa  dampak yang dapat merusak hubungan antar pribadi dan lebih jauh dapat merusk martabat keluhuran manusia
§  Menyerap  segala infromasi-informasi penting yang sifanya membangun iman seseorang menjadi lebih dewasa dan matang, sekaligus berupaya menghindari hal-hal negatif yang bersifat merugikan
             Tinjauan Alkitabiah
Peradapan manusia sangat tergantung dengan perkembangan media komunikasi yang dipakai. Manusia berusaha menemukan  media komunikasi  yang bertujuan untuk mengatasi banyak permasalahan dalam hidupnya.  Orang percaya sepanjang zaman  memakai media komunkasi  itu menjadi  alat untuk pekabaran Injil. Bersamaan dengan kapitalisasi dan modernisasi  yang berkembang, peran media semakin kompleks dan vulgar. Media  tidak lagi ‘hanya” wadah penyampaian informasi untuk berbagai kebiasaan . Kekuatan media ini terbukti mengambil bagian yang  strategis dalam PI.[37]
  • Komunikasi oral[38]. Sisitim komunikasi oral merupakan  cara komunikasi yang paling tua yang telah dimanfaatkan orang percaya  untuk memberitakan, mengajarkan pokok-pokok iman kepercayaan kepada orang lain. Sistim komunikasi oral telah diyakini sebagai salah satu pemberitaan Injil yang paling efektif dan mencapai  sasaran.
  • Komunikasi dengan tulisan[39]. Injil telah diberitakan dengan sistim komunikasi tulisan. Melalui sistim komunikasi tulisan  injil telah diwariskan  secara turun temurun. Alkitab telah dicatat dalam berbagai  bentuk penulisan pada tulisan  di batu yang mengkomunikasikan firman Tuhan.
3.4.  Media Massa Bagian integral dalam Pelayanan Gereja
Pelayan gereja tidak hanya melalui ibadah dalam gereja saja, namun gereja dapat menggunakan media internet. Pelayan melalui media internet dapat dilakukan, misalnya gereja perlu mengirimkan bahan-bahan renungan harian, artikel. Melalui hanphone dengan mengirimkan pesan-pesan Alkitabiah terhadap warga jemaat.
Penginjilan merupakan salah satu tugas gereja yang sangat penting sesuai dengan  amanat Agung Tuhan Yesus dalam Matius 28:19-20.  Ada beberapa hal yang dapat dilihat sebagai  kontribusi  pelayanan yang dapat dilakukan  melalui media elektronika, misalnya seperti radio
Teknologi bijak untuk disikapi sebagai berkat Tuhan kepada manusia. Di dalam perspektif Kristen, era informasi dan teknologi merupakan peluang untuk mewujudkan secara maksimal berita keselamatan yang dinyatakannya dalam Yesus Kristus. Di satu pihak Allah menghendaki manusia hidup sejahtera agar manusia dikaruniai akal budi, sehingga manusia dapat mengembangkan kehidupannya. Kebutuhan dan penyebaran informasi sebenarnya sejalan dengan semangat kristiani. Maka, kemajuan teknologi adalah potensi yang terbuka untuk dikembangkan bagi kepentingan pelayanan gereja.[40]
Melihat keadaan hidup manusia pada era informatika, gereja harus secara proaktif dalam tugas dan pelayanannya. Misalnya, melakukan program pelayanan yang disesuaikan dengan informatika tanpa menghilangkan sistem tradisional dalam berkomunikasi. Gereja juga harus sudah dapat menggunakan alat-alat informatika dan mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan.[41]
Setiap informasi harus dapat dipahami sebagai bahasa untuk petunjuk “planning direction” (perencanaan dan pelayanan). Dengan demikian kemajuan teknologi informatika tidak hanya berpengaruh terhadap dunia, termasuk gereja dan orang-orang Kristen. Gereja perlu mengadopsi nilai-nila yang baik yang diperoleh dari informatika dan mengkomunikasikannya ke dalam kehidupan bergereja. Memang di satu sisi perkembangan teknologi informatika ada yang bersifat destruktif terhadap pelayanan dan kehadiran gereja. Disisi lain, perkembangan teknologi informatika dapat menjadi suatu peluang untuk mengembangkan suatu pelayanan gereja. Melalui teknologi informatika, kelemahan-kelemahan dalam pelayanan dan hambatan untuk meningkatkan efektivitas dan peningkatan pelayanan dapat teratasi. Salah satu hal positif dari perkembangan informatika adalah munculnya rasa tanggung jawab secara individual terhadap gereja. Setiap pribadi mempunyai peran yang dibutuhkan gereja. Hendaknya gereja menjadi tempat terbuka bagi siapa saja baik pribadi maupun keluarga warga jemaat, untuk bersekutu dan melayani sesuai dengan talenta yang dimilikinya masing-masing.[42]
Melihat keadaan hidup manusia pada era informatika, gereja harus proaktif memanfaatkan alat-alat informasi dalam pelayanan. Misalnya: dalam membentuk program pelayanan maka para pelayan harus menjadi orang yang dibangun atau yang mampu memanfaatkan alat-alat informasi tanpa menghilangkan sistem komunikasi tradisional.
3.5. Tinjaun Etis
Ada dua kemungkinan sikap gereja terhadap perkembangan komunikasi dan informasi, yaitu:[43]
  1. Gereja yang ekslusif: Gereja yang tertutup terhadap informasi dan komunikasi beserta alat-alat atau media informasi. Pemberitaan Injil, khotbah dan pengajaran iman Kristen hanya melalui komunikasi tradisional yaitu dengan pengajaran verbal (diluar itu tidak ada diminati).
  2. Gereja yang inklusif: Ada gereja yang terbuka terhadap informasi dengan melakukan program pelayanan dan memanfaatkan sarana-sarana informasi yang ada. Dalam setiap pelayanan selalu menggunakan berbagai data untuk menyebarkan pengajaran  iman Kristen dan berita Alkitab.
Sikap gereja yang kita harapkan ialah dengan terbuka menerima informasi tersebut  sekalipun harus diakui bahwa setiap informasi dapat berdampak destruktif (merusak) sekaligus dapat juga bersifat membangun (konstruktif). Namun justru karena kedua sikap itu dalam informasi dapat berfungsi sebagai pengarah program pelayanan (planning direction).
Dengan melihat sisi positif dan negatif tersebut, gereja dapat memanfaatkan informasi sebaik-baiknya sebab melalui sarana dan prasarana informasi, kelemahan-kelemahan pelayanan dan hambatan-hambatan yang ditemukan dapat teratasi. Gereja melalui pelayanannya juga harus mampu hadir ditengah-tengah jemaat sesuai dengan perilaku atau pribadi yang terjadi dalam jemaat. Dengan demikian pelayanan gereja di era informasi harus memanfaatkan sarana informasi dan komunikasi seefisien dan seefektif mungkin.
Hendaknya gereja menggunakan media massa menjadi kekuatan dalam peluang PI. Kekuatan media masssa memiliki peluang untuk mengkontruksi realitas yang sangat besar.  Media dengan mudah menciptakan kebenaran menurut persepsi  dari media tersebut. Masyarakat akan dengan mudah menginterpretasikan sebuah kebenaran yang dianut oleh  media tersebut, dan itu bisa berakibat baik dan juga sebaliknya.
Dalam terori pembelajaran sosial  media berada diposisi  sentral di dalam  struktur kehidupan bermasyarakat, baik itu pengaruh, kepentingan  maupun nilai-nilai kebenaran dapat dipertontonkan lewat eksistensi media  tersebut. Jika dipandang dari sudut teori pembelajaran sosial. Maka pemakaian  media massa untuk pemberitaan Injil dan pembentukan karaktek bangsa  adalah hal yang urgen untuk dilaksanakan gereja. Gereja perlu mengimbangi  media-media lain yang komersial. Berbagai penelitian mengatakan, menonton televisi dengan tayangan yang berisikan kekerasan, konsumerisme dll, secara berlebihan  di kalangan anak-anak bisa menyebabkan  cara hidup yang pasif dan malas bergerak pada anak-anak. Dalam hal ini gereja dapat melakukan, dimana gereja sebagai kekuatan yang berada diluar media dapat mempengaruhi pemilik media dan pelaku media agar lebih berpihak kepada nilai-nilai universal seperti yang diajarkan oleh Yesus.[44]
Nampaknya media massa, kini dan masa yang akan datang akan menjadi salah satu faktor yang menentukan untuk membentuk kepribadian manusia baik secara negatif dan positif. Oleh sebab itu bagi gereja media massa menjadi peluang dan tantangan dalam pelayanan. Sehubungan dengan pemaparan di atas maka ada beberapa yang menjadi peran penting media massa yang perlu disikapi dalam meningkatkan pelayanan gereja yakni:
a.       Media massa sebagai sarana untuk berkoinonia
§  Media massa sebagai sarana untuk membangun antusias jemaat beribadah
§  Melalui Hand Phone gereja dapat membangun hubungan komunikasi persaudaraan di dalam kasih Kristus terhadap jemaat baik secara personal, komunal, regional, maupun global
§  Melakukan upaya-upaya kemitraan bersama gereja-gereja dan lembaga-lembaga Kristen lainnya untuk mencapai misi gereja
§  Membangun kemitraan antar jemaat Kristen dalam wadah oikumenis
§  Membangun komunikasi secara internsif dan berkelanjutan terhadap jemaat baik dalam hal ucapan ulang tahun kelahiran, ulang tahun pernikahan, dukungan moral.
§  Mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat memupuk dan meningkatkan kerja sama antar gereja.
b.      Media massa sebagai sarana bermarturia
§  Sebagai sarana untuk menyuarakan suara kenabian baik bagi warga jemaat, masyarakat dan juga pemerintah
§  Mengadakan kursus-kursus dan seminar-seminar tentang pelayanan media massa, terutama pelayanan Kristiani melalui media cetak dan elektronik
§  Menggunakan dan memanfaatkan media komunikasi massa, khususnya media cetak dan media elektronik sebagai sarana untuk memberitakan kabar baik bagi masyarakat.
§  Media massa (HP, TV, Radio) dapat sebagai alat untuk mengkomunikasikan Injil dan sebagai sarana  penginjilan yang praktis
§  Media massa sebagai sarana untuk melakukan sharing, diskusi maupun dialog secara personal
§  Membuat program-program siaran rohani bagi radio dan televisi yang berisi penerangan, pendidikan, kebudayaan dan penghiburan yang berlandaskan pada etika Kristiani.
§  Sebagai sarana informasi cepat dan praktis sehingga dengan mudah jemaat mengetahui dan terpanggil untuk menjadi bagian dari misi gereja
§  Sebagai sarana untuk memberikan pendidikan sosial politik, sosial ekonomi, sosial budaya,  IPTEK
§  Memberikan pemahaman dan panggilan orang Kristen dalam konteks masyarakat majemuk
§  Media massa sebagai sarana memberikan pengajaran moral, spiritual, melalui TV, Radio, HP, Internet, media cetak, majalah gereja, dll.
c.       Media sebagai sarana berdiakonia
§  Media massa sebagai sarana untuk sosialiasi progam pelayanan dalam bidang sosial gereja
§  Membuka peluang-peluang bagi orang-orang Kristen untuk mengekspresikan imannya dengan berdiakonia
§  Sebagai sarana sosial untuk solidaritas
§  Media massa sebagai sarana pelayanan pastoral; Menghibur orang yang sakit, Menguatkan yang berduka, Meneguhkan yang bergumul dengan masalahnya, dan sebagainya.


IV. Kesimpulan dan Saran
Komunikasi media massa  merupakan sarana  yang memberi dampak positif dan  negatif, hal ini tergantung bagaimana kita menyikapi dan menggunakannya. Gereja hendaknya memanfaatkan komunikasi media massa sebagai bagian integral dalam pelayanan gereja. Adalah bijak untuk mensyukuri perkembangan informasi komunikasi dewasa ini sebagai buah karya cipta perkembangan IPTEK. Oleh sebab itu Gereja dapat menggunakan  sarana  media massa  sebagai intrumen untuk meningkatkan pelayanan gereja. Media massa dapat berperan dalam tri-tugas hakikat gereja, yakni bersaksi, bersekutu, melayani untuk kemuliaan dan kebesaran nama Tuhan kita Yesus Kristus. Gereja juga harus sudah dapat menggunakan alat-alat informatika dan mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan.
Sehubungan dengan peran media massa, serta dampak positif dan negatifnya bagi kehidupan warga jemaat maka ada beberapa hal perlu diperhatikan oleh gereja yakni:
  1. Gereja  perlu membuat/membuka, dan mengembangkan layanan infomasi khusus, baik di tingkat pusat, distrik, ressort, pagaran, weiks/lingkungan, dimana jemaat dapat memberi dan menerima informasi secara cepat dan praktis. Secara khusus HKBP telah memiliki satu Biro informasi, namun biro ini perlu dikembangkan sampai ke jemaat lokal.
  2. Memanfaatkan  daya media massa modern yang ada seperti radio, televisi, multimedia, internet.
  3. Memberdayakan media alternatif yang lazim dikenal sebagai media komunitas seperti teater rakyat, gondang, drama, poster, selebaran, forum diskusi, dan folkmedia dalam bentuk sastra rakyat seperti pantun, teka-teki, syair, tarian, nyanyian dll. Media komunikasi komunitas ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya-budaya bangsa kita. Umumnya media-media itu memiliki hubungan yang sangat erat dengan pesan-pesan moral, tentang yang baik dan yang jahat.
  4. Gereja hendaknya tetap membekali jemaatnya untuk memiliki sikap kritis terhadap dampat negatif informasi media massa. Media massa dan informasi yang dihasilkannya bukan satu-satunya kebenaran mutlak untuk itu perlu dikritisi
  5. Gereja hendaknya senantiasa proaktif dalam mengakomoder setiap informasi yang berkembang dalam masyarakat (baik isu politik, ekonomi, sosial, agama, budaya, dll) dan memberikan penjelasan menurut iman kristen